[NulisRingkas] (1) Rasional Vs. (2)Suka

pilihan

BERPIKIR rasional itu seperti misalnya saat kita berencana membeli ponsel. Kita dihadapkan pada beberapa pilihan merk dengan spesifikasi dan harga yang berbeda-beda. Kita akan menimbang-nimbang dulu azaz manfaat dari serangkaian pilihan yang ada. Apakah spesifikasinya sesuai dengan fungsi dan kegunaan yang akan kita pakai? Apakah harganya cukup pas untuk ukuran kantong kita? Apakah keandalan ponsel tersebut terjamin?

Baca lebih lanjut

[NulisRingkas] Nyinyir Menyindir Capres

image

STOP menghina, nyinyir dan terus menyindir capres yang bukan pilihan anda. Sisakan sedikit ruang untuk kecewa dan jangan menambah dosa. Barangkali, mungkin nanti akan berguna. Barangkali, mungkin nanti bisa diubah menjadi semangat positif membangun negeri jika bukan pilihan anda yang keluar sebagai pemenangnya.

Anda tahu, Kita sama-sama berangkat dari banyak hal yang sama. Sama-sama satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Kita adalah Indonesia dan jangan sampai terpecah. We are One! :-)
(***)

[NulisRingkas] Seorang Pria Dengan Sebuah Terompet

horn

 

MEREKA datang dari berbagai penjuru hanya untuk mendengarnya bermain. Dulu, dia selalu ada di sudut jalan yg sama itu setiap hari.

Selalu ada kerumunan orang banyak saat ia memainkannya. Ketika ia meniupkan terompet, semua orang rasanya sudah tahu. Irama seperti apa yang akan dibawakan. Kadang gembira yang menghentak, kadang sedih yang mendayu.

Aku hanya ingin melihatnya bermain, meniup terompetnya.  Sama seperti kerumunan orang-orang itu. Tidak ada yang lain. Hanya ingin melihatnya bermain terompet.

Oh ya, air matanya selalu menetes saat sedang meniupkan terompet.

‘Hey, itu malah membuatku tersenyum atau justru terharu mendalam. Sebuah penjiwaan dari permainan terompet!’.

Mungkin sama juga seperti pikiran orang-orang dalam kerumunan itu.

Tidak ada yg pernah bertanya padanya :

‘Kenapa ia meneteskan airmata setiap kali meniupkan terompet?’

Mungkin jawabannya karena ini :

‘Kerumunan orang yang datang itu dan juga aku hanya ingin melihatnya bermain’.

(Play it, Don!)

————————————-

Ah, sekarang tiupan terompetnya sudah terbiasa terdengar di stasiun-stasiun radio. Dia membuat setiap malam rasanya seperti malam minggu saja. Lewat terompetnya, dia membuat suasana hati jadi gembira atau sedih dengan sama baiknya.

Aku sudah lama sekali tidak melihatnya lagi di sudut jalan itu. Sesekali saat berada di sana, aku melihat beberapa orang tegak berdiri beberapa lama. Mungkin sama denganku, ingin melihatnya lagi ada di sana. Mungkin juga sama dengan pikiranku yang sekarang ingin tahu :

‘Kenapa dulu ia meneteskan airmata setiap kali meniupkan terompetnya?’  (***)

 

Disadur dari      :  ‘The Man With The Horn