[NulisRingkas] (1)Rasional Vs. (2)Suka

pilihan

 

BERPIKIR rasional itu seperti misalnya saat kita berencana membeli ponsel. Kita dihadapkan pada beberapa pilihan merk dengan spesifikasi dan harga yang berbeda-beda. Kita akan menimbang-nimbang dulu azaz manfaat dari serangkaian pilihan yang ada. Apakah spesifikasinya sesuai dengan fungsi dan kegunaan yang akan kita pakai? Apakah harganya cukup pas untuk ukuran kantong kita? Apakah keandalan ponsel tersebut terjamin?

Dan, pada akhirnya kita akan menetapkan sebuah pilihan dari beberapa ponsel tersebut. Mungkin sekali tidak seluruh syarat yang ada di kepala soal ponsel idaman, bisa terakomodir di pilihan kita itu. Orang yang berpikir rasional akan memilih yang paling mendekati spesifikasi yang diinginkannya. Mereka pilih yang paling banyak mendatangkan manfaat kegunaan dibanding mudaratnya. Soal merk, saya pikir orang rasional akan menempatkannya pada prioritas yang kesekian karena itu cuma branding yang belum tentu sesuai dengan kegunaan kita.

————————————

KALAU berpikir atas dasar suka? Ya, pokoknya suka saja dengan merk-nya yang sudah popular kemana-mana itu. Ya, pokoknya suka saja dengan bentuk chasingnya yang kelihatan bagus itu. Ya, pokoknya suka saja dengan harganya yang sepertinya bisa meningkatkan prestise saat digunakan. Ya, pokoknya suka saja karena idola kita juga pakai ponsel yang seperti itu. Ya, pokoknya suka saja karena banyak orang terkenal yang sudah pakai ponsel dengan merk dan spesifikasi yang sama seperti itu. Ya, pokoknya sukaaaa ajah! (***)

 

 

[NulisRingkas] Nyinyir Menyindir Capres

image

STOP menghina, nyinyir dan terus menyindir capres yang bukan pilihan anda. Sisakan sedikit ruang untuk kecewa dan jangan menambah dosa. Barangkali, mungkin nanti akan berguna. Barangkali, mungkin nanti bisa diubah menjadi semangat positif membangun negeri jika bukan pilihan anda yang keluar sebagai pemenangnya.

Anda tahu, Kita sama-sama berangkat dari banyak hal yang sama. Sama-sama satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Kita adalah Indonesia dan jangan sampai terpecah. We are One! :-)
(***)

[NulisRingkas] Seorang Pria Dengan Sebuah Terompet

horn

 

MEREKA datang dari berbagai penjuru hanya untuk mendengarnya bermain. Dulu, dia selalu ada di sudut jalan yg sama itu setiap hari.

Selalu ada kerumunan orang banyak saat ia memainkannya. Ketika ia meniupkan terompet, semua orang rasanya sudah tahu. Irama seperti apa yang akan dibawakan. Kadang gembira yang menghentak, kadang sedih yang mendayu.

Aku hanya ingin melihatnya bermain, meniup terompetnya.  Sama seperti kerumunan orang-orang itu. Tidak ada yang lain. Hanya ingin melihatnya bermain terompet.

Oh ya, air matanya selalu menetes saat sedang meniupkan terompet.

‘Hey, itu malah membuatku tersenyum atau justru terharu mendalam. Sebuah penjiwaan dari permainan terompet!’.

Mungkin sama juga seperti pikiran orang-orang dalam kerumunan itu.

Tidak ada yg pernah bertanya padanya :

‘Kenapa ia meneteskan airmata setiap kali meniupkan terompet?’

Mungkin jawabannya karena ini :

‘Kerumunan orang yang datang itu dan juga aku hanya ingin melihatnya bermain’.

(Play it, Don!)

————————————-

Ah, sekarang tiupan terompetnya sudah terbiasa terdengar di stasiun-stasiun radio. Dia membuat setiap malam rasanya seperti malam minggu saja. Lewat terompetnya, dia membuat suasana hati jadi gembira atau sedih dengan sama baiknya.

Aku sudah lama sekali tidak melihatnya lagi di sudut jalan itu. Sesekali saat berada di sana, aku melihat beberapa orang tegak berdiri beberapa lama. Mungkin sama denganku, ingin melihatnya lagi ada disana. Mungkin juga sama dengan pikiranku yang sekarang ingin tahu :

‘Kenapa dulu ia meneteskan airmata setiap kali meniupkan terompetnya?’  (***)

 

Disadur dari      :  ‘The Man With The Horn

 

 

[NulisRingkas] Mesin Inspirasi

mesin misteamer cre4ambath

 

MESIN INSPIRASI, saya membayangkan mesin itu bakal ada. Untuk menstimulasi lagi kinerja orang-orang yang selama ini seperti robot. Yang bekerja ala kadar untuk menggugurkan tanggung jawab saja. Untuk orang-orang yang baru bisa bekerja dengan benar bila di depan mata mereka dikibas-kibas setumpuk uang.

Mesin itu saya bayangkan bisa kembali membuat orang giat bekerja penuh inovasi dan rasa tanggung jawab. Seperti manusia lagi. Mesin itu dibuat untuk memanusiakan manusia. Bentuknya mungkin bisa seperti baskom yg ada di salon-salon. Seperti mesin misteamer creambath. Mesin steam rambut yang mempunyai kemampuan dalam mengeluarkan uap panas-dingin yang mengandung ion dan menguapi bagian atas kepala.

Saya membayangkan cara kerjanya sangat mudah. Tinggal memasukkan kepala ke dalamnya. Kemudian, mesin dinyalakan selama 15 menit. Ion-ion kreatif yang bisa memanusiakan kembali manusia-manusia robot itu bekerja menguapi kepala bagian atas. Dan, begitu keluar… taraaa… mereka sudah siap bekerja dengan penuh inspirasi dan inovasi lagi. (***)

 

 

[NulisRingkas] Bekerja Standar

buruh

 

BERHITUNG soal pekerjaan sebenarnya baik. Kita jadi belajar untuk lebih profesional dan menghargai diri sendiri. Menghargai waktu, tenaga dan kualitas skill yang kita punya.

Yang tidak baik itu jika hanya berhitung soal hak kerja saja. Ingin hak sesuai standar, bahkan lebih. Tapi mengabaikan apa yang sebenarnya menjadi kewajiban standar dalam bekerja.

Bicara hak maunya standar. Tapi kewajiban pilih yang ala kadar. Ngomong hak kalau bisa dilebihkan. Tapi kualitas kewajiban cenderung dikurangkan. Its not good, its so bad.

 

Mayday, mayday. Selamat Merayakan Hari Buruh. (***)

 

 

[NulisRingkas] Melukis Fakta

lukis

BEDA MELUKIS dengan mendokumentasikan gambar foto itu, mungkin bisa dilihat dari kadar objektifitasnya. Pelukis bisa mendeskripsikan objek lukisnya sesuai gambaran yg ada di dlm kepala. Bisa jadi sama dg si objek atau malah berbeda sama sekali.

 

Pelukis bisa saja menggambarkan sebuah objek manusia yg berbaju putih, menjadi hitam di dalam karyanya.  Atau, menggambarkan pria berkumis, menjadi tanpa kumis hanya karena ia merasa bahwa sang objek akan lebih baik jika tanpa kumis di dlm karyanya. Ada rasa/taste pelukis yg masuk di hasil lukisnya. Itu seperti opininya si pelukis.

 

Karya foto lebih menggambarkan realita yg ada. Itu seperti memindahkan objek asli ke dalam gambar foto. Objek pria berkumis, akan tetap tergambar sebagai pria berkumis di dalam karya fotonya. Atau, jika si objek mengenakan baju putih, maka baju dengan warna itu juga yg akan tergambar dalam karya foto. Sisi subjektifitas mungkin masih terjadi. Tapi relatif kecil dibanding lukisan. Biasanya soal angle/sudut pengambilan gambar objek dan penggunaan cahaya.

 

——————————

 

MENEMPATKAN dan kemudian menyampaikan suatu informasi fakta dg gaya bercerita, mungkin sekali membuat si penulis terjebak dalam metode melukis. Ada opini-opini yg bisa masuk dan itu bukan fakta. Atau, agar deskripsinya bisa mengalir sesuai alur cerita yg ada dalam kepala, penggambaran informasinya mungkin saja mengabaikan fakta.

Tak jarang juga, si penulis informasi fakta yang menyampaikan dg gaya melukis, justru sengaja mencampurkan fakta dan fiksi agar hasil ceritanya bisa sesuai frame yg sdh ditentukan di awal ia memulai. (***)

 

[NulisRingkas] Kerja Kerja Kerja!

Image

KERJA ITU merupakan ide yg diejawantahkan menjadi tindakan nyata. Bukan cuma ide yg sekadar diucapkan di mulut, trus ikut-ikutan berkoar : Kerja kerja kerja! Seperti mereka yg memang bekerja. (***)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.