Pria Apa Aku Ini?!

Kring….kring… kring….
Bunyi jam beker kecil yang tergeletak begitu saja di sudut lantai kamar, pagi ini terasa sekali mengganggu tidurku yang memang belum jenak. Maklum, aku baru pulang jelang subuh dengan kondisi tubuh yang sangat letih. Kerjaan di kantor seperti nggak ada habisnya…

Pukul 06.00 pagi saat kupelototi jarum-jarum jam yang tergeletak di sudut lantai. Ternyata hari ini aku ada janji ketemu dengan relasi kerja pukul 08.00. Makanya, biar otak masih mengawang untuk terus untuk melanjutkan sisa waktu tidurku yang kurang, aku paksakan saja berdiri. Di dapur kudapati kucing hitam putih kesayanganku, sedang menjilati sisa makanan kemarin siang di tempat cucian piring.

Si Goblok, begitu biasa aku memanggilnya, ternyata sudah lebih dulu bangun. Naga-naganya goblok memang kelaparan. Seharian kemarin, aku memang lupa memberinya makan. Goblok terkurung di dalam rumah sampai aku pulang subuh tadi. Aku hanya memandangi saja aksinya mengais-ngais sisa-sisa makanan sambil tersenyum kecut. Agak malas, aku mulai aktifitas hari dengan menjerang air untuk secangkir kopi hitam pekat, teman sarapan pagi…

……..

“Iya iya aku tau, tapi kamu jangan gusar gitu. Hari ini aku ada janji ketemu orang. Mungkin kita baru bisa ketemu rada-rada siang untuk membicarakannya, gimana?”

klik, tut…tut…tut…

“Sialan, malah ditutup!!”

Goblok memandangiku bingung. Sesekali buntut pendeknya coba diputar-putar di antara sela kaki. Aku sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Kopi pekat juga sudah terhidang di meja. Tapi entah kenapa hanya kupandangi saja. Pembicaraan di telepon dengan Irma tadi sedikit membuatku gusar. Irma pacarku, kembali mempersoalkan kehamilannya yang kini memasuki bulan ketiga. Wajar sebenarnya Irma bingung, dan terus mendesak status hubungan kami dengan pernikahan secepat mungkin. Wajar juga Irma marah dengan memutuskan percakapan karena aku terkesan mengesampingkannya dan lebih mementingkan ketemu relasi pagi ini. Tapi sejujurnya, aku memang belum siap untuk menjadi bapak dari janin yang kutanam di rahimnya. Makanya, aku sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaanku kantor. Pria seperti apa aku ini??

Aku mungkin sama dengan si goblok yang kebingungan. Goblok yang bingung melihat tingkah tuannya yang mendadak sering acuh. Membiarkannya mencari makanan sendiri dari sisa-sisa di dapur. Atau bahkan berjuang di luar rumah dengan cara mencuri lauk santapan tetangga.

Tanpa terasa kopi pekat yang sedari tadi hanya kupandang, sudah mulai dingin. Waktu juga sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi. Agak tergesa langsung saja kuseruput dan kemudian bergegas meninggalkan rumah…

Pukul 11.00 siang aku baru saja meninggalkan kantor pak Subranta, relasi kerjaku. Kantornya yang hanya sebuah ruko petak kecil. Jadi semakin sempit dan membuatku gerah. Sedari pagi tadi, aliran listrik PLN mati di kawasan itu. Ya otomatis AC yang terpasang di tiap bagian ruangan kantor pak Subranta, jadi tidak berfungsi. Parahnya, lima orang karyawati di perusahaan travel miliknya, malah memanfaatkan kesempatan ini dengan berkumpul di pojok ruangan. Dari tertawanya, aku tahu mereka ngerumpi. Khas wanita!! Tapi ya maklum saja. Mereka memang jadi tidak bisa bekerja dengan normal. Seluruh perangkat komputer untuk menyimpan data base, transaksi penjualan tiket penerbangan, tidak bisa diakses tanpa adanya aliran listrik yang menghubungkan ke perangkat tersebut.

Di pelataran parkir depan kantor pak Subranta, kemeja putihku sudah basah oleh keringat. Karena gerah, aku terpaksa melepas dua kancing paling atas. Kemudian berjalan gontai ke arah Jimni butut yang kuparkir sepuluh meter dari kantor pak Subranta. Agak santai aku di dalam mobil. Usai menghidupkan mesin, mataku agak terpejam merasakan desiran air conditioner yang ternyata bisa melumerkan kegerahanku selama pembicaraan dengan pak Subranta di kantornya yang pengap.

Saat persneling mobil mulai kugerakkan maju, mendadak suara handphone di sakuku berbunyi. Dari nada panggilnya aku tahu itu pasti panggilan dari Irma.

“Ya Ir, aku masih di jalan, baru selesai nemuin… Apa? Iya iya aku tahu. Kan sudah kubilang rada siangan nanti kita bicarakan lagi masalah yang itu. Kamu sekarang lagi di mana?”

“Ya sudahlah nggak usah terlalu dipikirkan, nanti kita bicarakan jalan keluarnya. Pokoknya kamu sabar dulu sampai nanti siang…”

Tut…tut…tut…

“Ah, dimatiin lagi…. Sial!!”

Pukul 14.00 siang aku di kantor. Mataku menyorot tajam tiap kalimat yang kutuliskan di layar komputer. Aku memang termasuk teliti untuk urusan yang satu ini. Tapi sejujurnya, mataku sudah mulai lelah untuk terus kujadikan alat sensor hasil kerja. Tidur dua jam sebelum beraktifitas, ternyata belum cukup untuk menopang kinerjaku yang padat seharian ini.

Tiiiit….tiiiit….. bunyi melengking alert sms ericsson lawas milikku, sedikit membuyarkan konsentrasi kerjaku di depan komputer. Sms dari Irma.

Kutnggu di rmh jam 3 sr.bagi mas ini mngkn kurang pentng, tp tdk utkku. Aku tdk ingin ke2 ortuku tahu kondsiku sprti ini, sblm ada kepstian siap nikah dari mas. Tlg mngrti mas.

Tombol reply langsung ketekan dan kemudian sibuk menulis balasannya.

Iya syng, km tenang2 sj di rmh. Slesai dr kntr aku lngsng ke sn, ok.

Hp kemudian ku-geletakkan saja di meja. Aku sibuk kembali dengan pekerjaanku yang belum kelar. Entah kenapa, beberapa hari belakangan, rasanya enggan saja bertemu Irma. Aku belum siap menerima tantangannya untuk menikah.

Pukul 15.45 sore aku baru sampai di halaman depan rumah Irma. Sepanjang perjalanan tadi, pikiranku berkecamuk hebat. Segera menikahi Irma atau mencari jalan keluar lain terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah kami. Namun yang jelas, aku sangat mencintai gadis itu. Gadis manis yang mencintaiku sepenuh hati dan rela memberikan milik berharganya saat kami berdua dilanda gelora nafsu yang hebat. Entah sudah berapa kali kami melakukannya. Yang jelas kami menginginkannya karena kami saling cinta. Tapi, aku tidak menyangka bakal secepat ini. Janin yang tertanam di rahimnya, meminta kami untuk segera mengikrarkan diri dalam satu kehidupan rumah tangga yang sah secara norma agama dan masyarakat.

Setelah sepuluh menit dalam Jimni, aku baru sadar rumah ini kelihatan sangat sepi. Pintu dan jendela, tertutup rapat. Jarang-jarang rumah yang ditinggali Irma dan seorang adiknya ini, dalam kondisi begitu. Biasanya selalu terbuka di bagian depan. Paling tidak, ada aktifitas beberapa orang anak muda teman Bonny, adik Irma, yang kongkow-kongkow di depan. Di halaman depan rumah yang sengaja dibeli Keluarga Irma karena aktifitas pekerjaanya di kota ini. Irma seorang eksekutif di sebuah perusahaan soft ware. Jauh dari kota kelahirannya sendiri di Jawa Barat.

Aku kaget saat turun dari mobil dan dihampiri seorang pria tetangga sebelah. Menurut pria tua yang tidak kuketahui namanya, Irma baru setengah jam yang lalu dibawa ke rumah sakit. Ia mengalami pendarahan hebat. Tapi kenapa??

Pukul 16.40 sore, banyak orang di ICU rumah sakit. Aku lihat wajah-wajah sedih saat mendekat. Ada Ade, teman sekantor Irma yang kelihatan masih sembab wajahnya. Lalu kulihat Bonny, adik Irma yang masih mahasiwa, tepekur di depan sebuah jasad tertutup kain putih. Siapa?

“Irma… Irma….”. Spontan aku lari mendekat dan langsung mendekap jasad yang tertutup kain putih. Walau belum kupastikan dengan membuka selubung yang menutupi, aku tahu itu Irma. Aku meraung sejadi-jadinya. Sama sekali tidak terbayang olehku bakal seperti ini kejadiannya. Cukup lama aku begitu, sampai akhirnya bertemu pandang dengan sorot mata benci dari wajah sembab Bonny. Aku coba meredakan suasana dengan mendekatinya. Tapi ia membalikkan badan dan menjauhiku. Bonny marah karena tahu Irma meninggal saat coba menggugurkan sendiri janin yang dikandungnya. Bonny baru tahu sore ini kalau Irma mengandung. Dialah yang pertama kali menemukan Irma dalam kondisi sekarat di kamar mandi.

Wajah-wajah di sekelilingku kini, menatap dengan pandangan aneh terhadapku. Keterangan dokter yang diberikan sebelumnya, jelas membuatku terpojok. Ini semua salahku. Irma hamil karena aku. Begitu juga sampai ia nekad menggugurkan kandungannya yang berakibat fatal, meninggal. Ia mungkin sampai pada kesimpulan tentang sikapku yang tidak cukup serius menanggapi masalah kami. Seperti isi sms-nya sore tadi. Padahal, ia sudah begitu bingungnya. Pria seperti apakah aku ini?

Tiba-tiba kepalaku berat. Sangat berat. Tidak seharusnya aku bersikap menjauhinya belakangan ini. Hanya karena egoku pribadi, aku kehilangan gadis yang kusayangi, dan… anak yang berada dalam rahimnya.

“Aahh…”. aku berteriak keras. Keras, sekeras kerasnya…

Pukul 23.30 malam aku baru sampai rumah. Pikiranku masih kalut. Jenazah Irma malam ini sudah dibawa kembali ke rumah. Aku ikut mengantarnya tadi walau terus berhadapan dengan sorot benci Bonny. Irma rencananya dimakamkan besok pagi setelah kedua orang tua dan sanak keluarganya yang lain datang ke kota ini. Pengajian baru selesai dilakukan di kediamannya setengah jam lalu. Aku sebenarnya terus berkeinginan bersama Irma hingga saat-saat pemakaman dilakukan besok pagi. Tapi Bonny berkeras dan tidak menghendaki kehadiranku lebih lama lagi di sana. Aku mengalah dan pulang ke rumah…

Suasana gelap. Aku ternyata lupa menghidupkan sebagian lampu luar saat pergi tadi pagi. Begitu di dalam dan menghidupkan lampu, badan langsung kurebahkan di sofa panjang ruang tengah. Rasanya berat sekali hari ini. Kenyataan yang baru saja kuhadapi, begitu menjejal sel-sel putih otakku. Berat harus kehilangan gadis yang kusayangi dengan cara yang tragis. Meninggal saat coba menggugurkan janin dalam kandungannya. Dan itu…itu terjadi karena kealfaanku menanggapi sinyal-sinyal khawatir Irma!!

“Goblok!! Makiku pada diri sendiri.

Usai memaki aku malah ingat pada kucing peliharaanku, si Goblok. Sudah seharian ini kutinggalkan sendiri di rumah. Aku saja lupa, apa dia di dalam rumah saat kutinggalkan tadi, atau malah sudah bermain-main di luar dan tidak bisa masuk karena pintu terkunci. Mendadak aku jadi ingin membelai-belai bulu hitam putihnya yang lembut. Selama ini Goblok selalu setia menemani kesendirianku di rumah.

Pukul 00.00 malam, saat aku dengar sayup-sayup dentangan dua belas kali jam dinding di ruang tengah. Aku lihat sosok tubuh Goblok tergeletak diam di teras samping. Diam walau berulang kali kupanggil namanya. Saat kubalik tubuhnya, ada darah yang kelihatan setengah mengering dari lambung mungilnya. Goblok ditembak dan mati…

Tak terasa, bulir-bulir hangat air mataku kembali menetes. aku menangis lagi. Tubuh kaku Goblok langsung kurengkuh dan kudekap erat. Dari balik tubuh yang kuangkat, aku lihat sepotong paha ayam goreng utuh yang baru dikerat sedikit. Goblok ditembak saat ketahuan mencuri!!

Langsung terbayang dalam benakku, tingkahnya mengais-ngais sisa makanan di tempat cucian piring tadi pagi… Tanpa sadar, ingatanku buyar dan samar. Tubuhku limbung dan terbanting keras di lantai samping rumah.…

Selesai

Sedikit tentang penulis :
Noe, Senang nulis berawal dari iseng. Hobinya mendeskripsi-kan catatan perjalanan, kehidupan dan tingkah polah teman-temannya saat masih kuliah di S1 teknik energi listrik institut teknologi nasional malang. Kini menekuni profesi jurnalist tv.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s