Mengisolasi Diri

image

HIDUP selama puluhan tahun berdua. Mereka juga hanya sesekali berinteraksi dengan orang lain. Kediamannya berupa rumah panggung yang sudah usang dan lapuk di sana-sini.

Asui, sang suami bekerja sebagai nelayan. Sementara istrinya, Pakiang Liem, memilih berkebun di tanah belakang rumah. Seluas-luas pulau yang didiami, hanya ada mereka berdua.

Kalau kebetulan singgah di sana dan lagi beruntung, jangan kaget jika mendapati mereka hanya bertelanjang bulat tanpa pakaian sama sekali.

Ini bukan cerita yang mengadopsi filmnya Brooke Shield – Blue Lagoon. Asui dan Pakiang Liem memang menjalaninya dalam kehidupan nyata.

Pulau tempat tinggal pasangan itu berjarak 40 menit perjalanan menggunakan perahu klotok atau pompong dari pemukiman warga Dapur 6 kecamatan Galang-Barelang. Tidak ada transportasi regular yang bisa digunakan menuju lokasi. Jadi, kalau mau ke sana, harus menyewa perahu milik warga di Dapur 6.

Informasi keberadaan pasangan itu awalnya saya peroleh dari seorang rekan yang jadi pengurus Perhimpunan Sosial Marga Tionghoa Batam, Saufan Tan. Saufa juga yang mengantarkan saya untuk berkunjung ke sana menggunakan perahu klotok sewaan menjelang akhir tahun 2006 lalu.

Ia adalah penggemar berat kegiatan memancing di laut. Dari hobinya itulah Saufa mengenal pasangan Asui dan Pakiang Liem. Kata Saufa, Asui dan Pakiang seperti “Adam dan Hawa” yang tinggal di “Taman Firdaus”. Mereka jarang mengenal orang. Jadi kalau berkomunikasi dengan orang lain agak susah.

Tambahan lain, pasangan Asui dan Pakiang juga punya “hobi” unik ; bertelanjang bulat kalau sedang kegerahan. Toh Cuma mereka berdua di pulau itu, kata Saufa….

Pantai di pulau tempat tinggal pasangan itu sangat landai dengan pemandangan yang lumayan meneduhkan mata. Walau tidak terlalu mirip dengan setting lokasi di film blue lagoon, saya jadi berandai-andai bakal bertemu dengan wanita seperti Brooke Shield, wah....

Dari jarak 300-an meter di laut, rumah pasangan Asui dan Pakiang sudah kelihatan. Rumah tua berbentuk panggung yang sama sekali tidak bisa dikatakan bagus. Atapnya dari daun kelapa. Dindingnya menggunakan papan dan kayu besar yang dibelah jadi dua. Posisi rumah yang berada persis di bibir pantai dan menghadap ke laut, memungkinkan penghuninya untuk memantau setiap pergerakan menuju pulau tersebut.

Pantai landai? Eiit ini ternyata bisa jadi jebakan yang cukup merepotkan bagi setiap kapal yang ingin menghampiri ke pulau itu. Apalagi saat pasang surut. Perahu bisa kandas. Salah satu yang jadi korban adalah perahu yang saya tumpangi, kandas hanya berjarak 300 meteran dari bibir pantai.

Dan benar saja. Asui ternyata sudah memantau pergerakan perahu kami. Ia terlihat di teras rumah panggungnya. Tidak menghampiri, tapi mengamati. Baru setelah Saufa berteriak-teriak memanggil namanya, pria paruh baya itu mulai bergerak mendekati. Perawakannya kurus dengan kulit terbakar matahari. tapi guratan wajahnya memang masih menunjukkan wajah keturunan Tionghoa. Asui jugalah yang menolong perahu kami lepas dari karang yang membuat kandas.

Begtu mendekati rumah panggung, seraut wajah lain langsung menyapa kami. Wajah Pakiang Liem ternyata jauh dari bayangan saya tentang sosok di film Blue Lagoon, Brooke Shield. Umur Pakiang lebih tua tiga tahun daripada Asui. Perawakannya juga lebih kurus dengan kulit yang lebih legam. Tapi gurat Tionghoanya tetap kelihatan. Sementara Logat bicara mereka berdua sudah sangat Melayu.

Asui dan Pakiang sudah tinggal berdua di lokasi itu selama 20 tahun lebih. Sebenarnya mereka tidak melulu berdua. Sekitar 15 tahun lalu, pasangan itu pernah memiliki seorang anak. Jadi mereka tinggal bertiga. Sayang, sang anak harus pergi meninggalken mereka terbih dahulu karena terserang penyakit malaria. Keterbatasan pengetahuan dan jauhnya jarak mereka tinggal dengan warga lainnya, membuat penanganan untuk sang anak jadi terlambat.

Bagi Pakiang, Asui adalah suami keduanya. Puluhan tahun sebelum memutuskan tinggal berdua di tempat yang jauh dari keramaian, Pakiang pernah menikah dengan pria lain. Masih warga keturunan Tionghoa. Dari suami pertama, wanita setengah baya itu memperoleh seorang anak perempuan. Ia tidak merawat sendiri anaknya, tapi menyerahkan kepada orang tuanya yang memilih tinggal di Batam. Saat ini, sang anak sudah dewasa tanpa pernah sekalipun bertemu lagi dengannya.

Untuk mengisi hari-harinya berdua dengan sang suami yang sekarang, Pakiang memilih berkebun di tanahnya yang luas di belakang rumah mereka. Tapi, ia hanya mampu menggunakan sekitar 400 meter persegi saja dari seluas-luas pulau yang mereka diami berdua tersebut. Tanah yang dimanfaatkan, ditanami kelapa, pohon pisang dan ketela. Pakiang juga memelihara 5 ekor anjing. 2 diantaranya sepasang yang sudah dewasa. 3 lainnya adalah anak-anaknya. Wanita ini mengganggap anjing-anjing piaraannya sebagai anak-anaknya sendiri.

Sang suami, Asui adalah seorang nelayan. Ia biasa pergi ke laut untuk mengambil ikan sekedarnya sebagai bahan makanan. Sesekali, Asui juga mencari hasil tangkapan berlebih untuk dijual di daerah Dapur 6 Galang. Hasilnya dibelikan beras dan perlengkapan dapur, termasuk perangkat hio dan dupa untuk ibadah.

Kehidupan mereka benar-benar masih sangat sederhana. Di rumah panggungnya tidak ada kursi, tape compo apalagi televisi. Yang ada hanya perangkat jaring untuk menangkap ikan yang digantung-gantungkan di dalam rumah, beberapa panci yang sudah peyok dan menghitam karena dignakan untuk memasak menggunakaan kayu bakar serta tikar butut untuk tidur.

Cerita Asui, saking lamanya mereka tinggal berdua di pulau itu, mereka justru tidak betah jika berada di tengah keramaian. Asui hanya sesekali saja datang ke pemukiman warga di dapur enam untuk mencari kebutuhan rumah tangga. Sementara istrinya, Pakiang Liem hanya meninggalkan pulau tempat tinggalnya jika merasa sakit. Lucunya, setiap ia merasa sakit dan demam, Pakiang selalu mengganggapnya sebagai malaria dan harus segera diobati. Wanita itu sepertinya trauma dengan penyakit yang sudah merenggut buah hatinya belasan tahun silam.

Asui juga bercerita, beberapa tahun lalu, ia pernah menolong sekelompok orang yang terdampar di pantai dekat pulaunya karena kapal yang ditumpangi karam. Melihat gelagatnya menurut Asui, orang-orang itu kelihatan sangat asing dan jarang melintas di perairan itu. Dengan maksud menolong, pasangan Asui dan Pakiang akhirnya memberi tumpangan tempat untuk bermalam. Tapi apa yang terjadi? Kelompok orang asing itu ternyata merupakan gerombolan perompak yang baru saja lolos dari kejaran petugas. Saat akan pergi, mereka malah memaksa pasangan itu untuk menyerahkan barang berharganya.

Tapi Asui dan Pakiang tidak bisa menyerahkan apa-apa karena memang tidak punya. Pasangan itu sebenarnya sempat menawarkan untuk mengambil saja jaring penangkap ikan, beberapa panci butut hitam atau tikar usang yang selama ini mereka gunakan. Tapi jelas kawanan perompak keberatan. Mereka akhirnya pergi dengan menggerutu sambil mengancam agar Asui dan Pakiang tidak melaporkan kepada warga lain atau petugas bahwa keduanya pernah melihat kelompok itu… (bintoro suryo)

4 pemikiran pada “Mengisolasi Diri

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s