Pesantren Para Manula

Para manula berkumpul ikut pesantren kilat Husnul Khatimah di Masjid Raya Batam. Mereka semangat mengikuti beragam kegiatan dari pagi hingga sore. Ada yang merasa kuliah lagi. Juga senang lantaran kini punya komunitas.

Puluhan nenek-nenek terlihat ceria ketika berkumpul di ruang serba guna Masjid Raya Batam, Sabtu (6/9). Hari itu, untuk pertama kalinya mereka mengikuti pesantren kilat Husnul Khatimah yang rencananya digelar hingga hari ini(7/9). Hampir semua nenek-nenek yang ikut pesantren kilat merasa senang. ”Disini, kami bisa curhat-curhatan,” ujar Ermaini Mardjohan (65).

Rasa senang juga dituturkan Nurana (73). ”Semula saya tidak betah di batam. Nggak ada komunitas. Kalau ketemu orang muda, komunikasi nggak nyambung. Kami merasa tersisihkan,” kata Nurana. Namun usai ikut pesantren kilat, skapnya seratus persen berubah. ”Sayang mau ninggalin Batam lagi, ” kata wanita yang jabatan terakhir jadi kepala seksi di dirjen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lain halnya dengan Emi Warsih (65). Dia menuturkan antusias mengikuti acara ini lantaran ingin husnul khatimah (punya akhir yang baik). Menurutnya sebagian besar nenek-nenek banyak yang merasa tidak berguna. Makanya dia berharap dengan adanya pesantren manula ini, tidak ada lagi nenek-nenek yang merasa tidak berguna. ”Disini, banyak yang suka curhat sama mama (Emi Warsih-red). Makanya disinilah berusaha mencari solusi,” tambahnya.

Rasa senang dan bahagia juga dituturkan Ermaini. ”Kami senang disini. Enak banget, kayak seperti kuliah lagi,” kata Ermaini. Saat mengikuti pesantren kilat, sesi curhat mereka lakukan saat ada waktu istirahat. Selebihnya mereka mengikuti kegiatan keagamaan yang telah dijadwalkan.

Seperti Sabtu siang kemarin. Di ruang serba guna Masjid Raya tampak enam puluhan nenek-nenek duduk bersimpuh pada Sabtu (6/9). Mereka tengah mendengarkan ceramah tentang ‘Usia di Upuk Senja oleh KH Usman Ahmad Ketua MUI Kota Batam.

Dia menyampaikan kiat-kiat menghadapi sakaratul maut. Bagaimana agar mati dalam keadaan husnul khatimahpun dengan salah satu cirinya waktu meninggal mengucapkan Lailahailalloh. ”Ketaatan kepada Allah, tidak hanya menjalankan ibadah yang sifatnya wajib. Tapi ibadah sunah dan amalan lainnya,” tuturnya.

Selama pesantren kilat, para manula ini juga mengikuti kegiatan keagamaan yang rutin dilaksanakan di Masjid Raya. Salah satunya shalat berjamaah dan kultum usai shalat dzuhur. Seperti kemarin(6/7), puluhan nenek peserta pesantren kilat juga mengikuti kultum yang disampaikan Ustadz Ridho.

”Mudah-mudahan kita diberi kekuatan untuk menjadikan bulan Ramadan ini bulan dakwah. Kita ajak diri kita sendiri mampu melakukan kebaikan amal saleh yang pahalanya dilipatgandakan saat di bulan ramadan,” ujar Ustad Ridho. (andriani susilawati)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s