Menikmati hidup

Cara paling “murah” untuk tetap bisa tersenyum dalam hidup adalah berusaha menikmatinya. Menjadi seseorang yang menikmati saja hidup yang dijalani sekarang. Bukan yang masa lalu atau masa akan datang.

Seorang rekan asal Bali memberi saya pelajaran tentang ini. Usianya 2 tahun di bawah saya. Ia anak petani. Pertama mengenalnya, saya langsung menebak ia adalah orang yang murah senyum, bersahabat.

Sembilan tahun lalu, ia masih mahasiswa semester awal di jurusan teknik mesin. Sementara saya sudah di tingkat akhir. Katanya, ia beberapa kali pernah tidak naik kelas sehingga jarak kuliah antara kami jadi lumayan jauh. Kami jadi dekat karena punya kesenangan sama, manjat. Kami sama-sama suka mengunjungi tebing-tebing baru untuk dipanjati. Rasanya ada kepuasan jika berhasil sampai ke puncaknya atau berhasil menyelesaikan sebuah jalur baru yang kami temui.

Karena lebih muda dari saya, ia sering diminta mengalah. “orang muda harus mengalah dari yang tua” begitu kata saya. Beberapa kali atau bahkan sering, ia saya paksa untuk mengalah. Membawa ransel berisi tali dan peralatan memanjat yang beratnya bisa membuat orang sekarat atau saya beri tugas memasak makanan saat kami melakukan latihan atau ekspedisi pemanjatan. Ia selalu melakukannya dengan senang hati sambil tersenyum, tersenyum dan selalu tersenyum….

Dalam beberapa kali perjalanan bersama, saya sering mendapatinya berjalan sangat lamban. Bukan karena beban tas ransel yang disandang, karena saya pikir ia justru menikmatinya! Dalam setiap langkah kaki yang digerakkan, ia juga selalu menikmati setiap pemandangan yang tersapu oleh pandangan matanya. Walau kadang kesal, gayanya itu cukup membuat saya merasa nyaman. Jika ternyata kami berjalan di jalur yang salah. ia cukup hapal untuk kembali ke jalur semua.

Menjelang akhir waktu kuliah, saya ingat sebuah janji yang pernah saya sampaikan padanya. Membawanya untuk bersama-sama melakukan ekspedisi pemanjatan di tebing besar yang memiliki ketinggian 300 meter ke atas. Pilihan kami adalah tebing gunung batu Sriti yang ada di kabupaten Tulungagung. Tingginya sekitar 400 meter dpl (di atas permukaan laut). Untuk membawa logistik dan peralatan memanjat yang lumayan banyak, kami nekad saja menggunakan mobil kampus. Dan lagi-lagi, rekan saya itu juga merangkap sebagai porter yang pembawa logistik dan perangkat pemanjatan kami dari desa terakhir menuju sisi tebing, pergi dan pulang! Ia tetap melakukannya dengan tersenyum…

Pemanjatan hingga puncak berhasil diselesaikan dalam waktu tiga hari. Tapi ternyata, ini bukan akhir dari ekspedisi yang kami lakukan saat itu. Begitu selesai, kami mendapat kabar tentang mahasiswa hilang di gunung Argopuro, kabupaten Probolinggo. Sebagai volunteer, kami diminta bergabung dengan puluhan bahkan ratusan volunteer lain yang juga sudah menuju lokasi. Jarak Tulungagung – Probolinggo bisa ditempuh dalam waktu enam hingga delapan jam. Dalam kondisi separuh kelelahan, kami segera meluncur menuju lokasi dan langsung bergabung dengan volunteer lainnya untuk melakukan pencarian di gunung Argopuro.

Teman saya itu memiliki badan yang besar dan kekar. Ia langsung difungsikan sebagai pionner untuk membuka jalur baru pendakian dengan memilih rute yang kemungkinan dilalui para mahasiwa yang hilang tersebut. Sehari dua hari menempuh rute pencarian, rasa kelelahan benar-benar mendera. Belum lagi hujan yang terus menerus turun sehingga menghambat perjalanan kami. Saya lihat rekan saya itu sudah demikian kelelahan berada di kelompok depan. Dalam satu kesempatan, ia akhirnya merebahkan diri di tanah mendaki yang basah. Ia didera kelelahan yang sangat . Saya menghampirinya dan mencoba menyapa :
“capek?”

Sebelum menjawab, lagi-lagi ia tersenyum :
“Dinikmati saja, mas”.

“Wah,.. dalam kondisi begini kamu masih bisa menikmatinya? Tanya saya penasaran.

“Kita akan tetap melalui ini mas, kalau tidak dinikmati, nanti akan terasa semakin berat” ujarnya, lagi-lagi sambil tersenyum. Padahal, wajahnya sudah basah terguyur air hujan yang terus turun. Sementara bibirnya sudah mulai pucat karena kedinginan. Saya diam saja. Harus saya akui, dia benar.

Bertahun-tahun setelah itu, saya tetap ingat kata-katanya. Menurut saya, ia benar-benar orang yang easy going. Bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai orang yang lamban dan hanya mengalir karena terlalu menikmatinya. Dari salah satu artikel yang saya baca tentang perlunya kita menikmati apa yang sedang kita jalani sekarang, rekan saya itu mungkin bisa saya masukkan sebagai seorang yang cenderung be present… Maksudnya orang yang menjalani saja hidup yang sekarang. Bukan di masa lalu atau di masa yang akan datang. Ia menikmati apa yang ia jalani.

———–***————

Soal cara menikmati hidup, saya juga tertarik dengan cerita yang pernah saya baca tentang kisah dua anak laki-laki, Bob dan Bib. Begini ceritanya :

Ada dua anak, namanya Bob dan Bib. Mereka sedang melewati lembah permen Lolipop. Di tengah lembah, terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop warni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu, seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut, mempercepat jalannya agar bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak di depannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lollipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis. Ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang
dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan”. Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya pada Bob,

“Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.”

Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu,

“Permennya saya lupa makan!”

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.

“Hai, Bob! cepat sekali jalannya. Saya panggil-panggil, tapi kamu sudah sangat jauh di depan.”

“Kenapa kamu memanggil saya?” Tanya Bob.

“Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Saya juga menikmati pemandangan lembah, Indah sekali!” Bib bercerita panjang lebar pada Bob.

“Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama.” Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yg sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Ia juga sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya.

Di akhir perjalanan mereka di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, “Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.”

Bob berkata dalam hati :

“Waktu tidak bisa diputar kembali. Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan saya pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Saya tidak mengatakan cara yang dilakukan Bib adalah yang terbaik dalam menjalani hidup. Tapi saya dapat nilai positif ; Hidup akan terasa lebih indah jika kita bisa menikmatinya.. Dalam hidup, kewajiban kita kadang lebih banyak dari waktu yang dimiliki. Hidup juga terlalu pendek untuk mengejar semua impian-impian yang kita punya. Sementara waktu yang terlampau sempit itu, juga tidak bisa memuaskan kita untuk pantas disebut sebagai “orang baik” oleh semua orang. (bintoro suryo)

– medio oktober 2008 –

2 pemikiran pada “Menikmati hidup

  1. 🙂 Kesulitan itu sebenarnya sebuah tantangan jika kita mau mengganggapnya begitu… Ada juga yang beranggapan kesulitan adalah batu sandungan yang membuat kita tidak pernah bisa maju…

    Sama halnya dengan cara memandang sebuah gelas yang berisi air setengah. Ada seseorang yang menganggapnya sebagai “gelas yang kurang penuh” terisi air. Tapi ada juga yang mengganggapnya sebagai “gelas yang separuh penuh” terisi air…

    Orang yang mengganggap gelas kurang penuh akan selalu berpikir tentang kekurangannya saja. Tapi, orang yang berpikir gelas itu separuh penuh, akan mensyukuri apa yang dia peroleh.. dengan begitu ia bisa menikmati hidupnya..

    Hidup adalah bagaimana kita menikmati.. menjalani dengan ikhlas.. Di saat susah dan senang..

    Mungkin itu yang bisa saya bantu, Ratna… Ucapan memang tidak semudah melakukannya.. Tapi yakinlah.. Selalu ada jalan di tengah kesulitan hidup.. Goodluck…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s