Geliat Industri Tahu Tempe di Awal Tahun (1)

Bergairah (Lagi) di Tengah Krisis

Seandainya harga kacang kedelai bisa bertahan di kisaran harga sekarang atau lebih turun lagi, para penggiat usaha produksi tahu dan tempe di Batam mungkin masih bisa tetap tersenyum. Deraan ancaman krisis global yang diprediksi bakal mencapai puncak tahun ini, sedikit bisa dikesampingkan. Asalkan, kacang-kacang kedelai tetap mudah didapat dan harganya tidak melambung lagi.

Kuali besar untuk merebus kedelai, terus mengepul tanda air yang digunakan sudah mendidih. Setiap 15 atau 20 menit sekali,   Nanang pemuda berusia 28 tahun mengangkat kedelai-kedelai  yang sudah direbusnya untuk diletakkan dalam wadah-wadah  peniris. Ia menggunakan saringan besar yang sudah dibuatkan gagang panjang. Saringan itu juga yang digunakan untuk mengaduk-aduk kedelai saat proses perebusan.

Tangan-tangan kekarnya kemudian sibuk mengambil  lagi kacang-kacang kedelai dari dalam karung dan dituangkan ke dalam kuali mendidih yang sama. Begitu seterusnya seperti tidak berhenti. Dalam satu hari, pria itu mampu merebus hingga 500 kilogram kedelai untuk diolah sebagai bahan baku tempe dan tahu. Dari dapur di sentra industri kecil milik kakak beradik Anto Wahyudi  dan Sutarno inilah ia menghabiskan hari-harinya bekerja sejak beberapa tahun terakhir.

Di bagian lain di dalam bangunan tempat produksi tahu tempe, seorang pria bernama Sularno juga sibuk mengemas kacang kedelai yang sudah diberi ragi ke dalam kantung-kantung plastik. Sudah ratusan  kantung yang ia hasilkan sedari pagi bekerja. Ia ditemani dua pekerja lain yang bertugas mencampur kedelai-kedelai yang sudah direbus dengan bahan ragi. Walaupun cuaca saat itu mendung, sesekali Sularno tampak menyeka keringat yang keluar dari tubuh yang tanpa pembalut atas.

Dari luar, bangunan tempat usaha pembuatan tempe dan tahu milik Anto Wahyudi dan Sutarno, kelihatan sama dengan rumah-rumah lain di kampung Belian-Batam centre. Bentuknya permanen dari tembok tapi tidak dicat. Luas tanahnya sekitar 115 meter2. Tapi, ruang dalamnya cuma disekat dua bagian besar dengan tembok setinggi satu meter. Yang satu adalah ruangan untuk memproduksi tempe dan satunya lagi adalah ruangan untuk memproduksi tahu.

Di ruang khusus untuk memproduksi tempe, kondisinya lebih kering dan rapi. Ada rak-rak yang berjejer di tiga  penjuru dinding. Rak-rak itu digunakan untuk meletakkan kacang-kacang kedelai yang sudah dikemas dan dicampur ragi. Setiap 4 hari sekali, bungkusan-bungkusan kedelai tersebut sudah berubah jadi tempe dan siap untuk dipasarkan.

Sementara di ruang untuk memproduksi tahu, kondisinya lebih basah dan terasa panas. Maklum, di sana ada mesin penggiling kedelai, beberapa bak untuk pengolahan bubur kedelai, penyaringan ampas tahu serta tungku pembakaran kayu dengan nyala api yang berkobar. Saat itu, pria bernama Muhadi terlihat sibuk menjaga tungku pembakaran kayu.  ‘’Apinya harus dijaga tetap besar,  supaya  uap panas yang dihasilkan banyak,” ujar Muhadi.

Kata Muhadi dalam proses pemasakan bubur kedelai  tidak langsung menggunakan api, tapi menggunakan uap dari api yang dihasilkan dari tungku  pembakaran kayu.  Uap dari tungku perapian itu ditampung dengan seng berbentuk bulat, tepat di bagian atas perapian, lalu disalurkan melalui pipa panjang dengan ujung pipa di kuali besar yang berisi bubur kedelai yang siap dimasak untuk diolah menjadi tahu.

Dua pemuda bernama Iwan dan Danuri, juga kelihatan bersemangat menyaring bubur kedelai dari ampasnya menggunakan kain putih ukuran dua meter. Selanjutnya bubur ukuran besar siap didinginkan dan dipotong-potong oleh rekan mereka yang lain.

Jumlah pekerja yang bekerja di industri rumahan tahu tempe ada empat belas (14 )orang. Mereka direkrut berdasarkan kekerabatan karena berasal dari sebuah kampung yang sama yaitu Pacitan, Jawa Timur. Di Pacitan, sebenarnya mereka bekerja di industri rumahan tahu dan tempe.  Tapi upah bekerja di Pacitan  jauh lebih kecil. Karena itu merekapun memilih merantau ke Batam karena upahnya lebih besar.  ‘’Disini saya punya total penghasilan bersih Rp700 ribu. Uangnya saya kirim ke kampung. Kalau tempat tinggal, makan dan lainnya sudah ditanggung semuanya. Bosnya baik,’’ ujar Muhadi ayah dua anak ini.

Order pesanan yang banyak masuk belakangan ini, membuat mereka tidak boleh bermalas-malasan dalam bekerja. Untuk sekali produksi Tempe misalnya. Para penggiat usaha seperti ini biasanya bisa menghabiskan hingga 250 kg kacang kedelai . Dari jumlah itu, bisa dihasilkan 3500 bungkus tempe yang siap dipasarkan ke berbagai tempat di Batam.  Sementara untuk produksi tahu, mereka bisa menghabiskan 250 kg kacang kedelai yang menghasilkan 14000 butir tahu.

Bahan baku kacang kedelai untuk produksi tempe, normalnya dari Senin sampai Jumat menghabiskan  250 kg. Tapi kalau untuk Sabtu dan Minggu, produksinya lebih sedikit. Biasanya  cuma sampai menghabiskan 200 kg kacang kedelai untuk tempe. Begitu juga dalam produksi tahu. Pada Sabtu dan Minggu, produksinya menjadi lebih kecil. Untuk tahu, kalau hari Sabtu dan Minggu, produksi cuma 2 kwintal saja.

Kata si pemilik usaha ini Anto Wahyudi,  sejak satu bulan terakhir usahanya mulai bergairah lagi. Deraan ancaman badai krisis global yang diprediksi bakal mencapai puncak di tahun ini, sedikit bisa dikesampingkan. Sejak pertengahan Desember tahun kemarin hingga awal tahun ini, harga bahan baku kacang kedelai di pasaran sudah mulai turun lagi.

“Sekarang sudah lumayan bisa bernafas, harga kedelai satu karung ukuran 50 Kg turun jadi Rp310 ribu”, ujar Anto Wahyudi yang hari itu tampil santai dengan baju kaus dan celana pendek warna biru.

Sebelumnya menurut pria ini, harga kacang kedelai bisa mencapai hingga Rp 370 ribu. Itu untuk yang produksi asal Malaysia. Sementara untuk yang kedelai produksi nasional, harganya lebih tinggi lagi. Harga tersebut sempat bertahan selama berbulan-bulan hingga membuat para penggiat usaha kecil sepertinya menjerit.

Beberapa diantara mereka bahkan harus menghentikan produksi sementara waktu. Menurut Anto Wahyudi, harga kedelai saat ini sebenarnya masih cukup tinggi. Tapi tergolong lumayan karena bisa memangkas modal yang dikeluarkan daripada sebelumnya. Imbasnya, ia bisa meningkatkan jumlah produksi lagi. Jika produksinya banyak, untung yang didapatkanpun jadi lebih banyak.
“Biasa, barang kalau sudah naik kemudian turun, penurunannya pasti sedikit-sedikit. Tidak seperti saat kenaikan yang bisa langsung drastis”, ujar Anto Wahyudi. Ia masih cukup optimis harga kedelai di pasaran sekarang bisa kembali turun mendekati harga sebelum kenaikan beberapa bulan lalu.

Anto Wahyudi termasuk penggiat usaha kecil yang tangguh. Ia memulai usahanya di Batam  lebih dari 10 tahun lalu. Saat itu krisis moneter dan ekonomi juga sedang melanda Indonesia. Ia mengawalinya dari lokasi ruli di dekat pasar Angkasa Nagoya sekarang ini.

“Tahun 1998 kedelai satu karung ukuran 50 kg harganya Rp 150 ribu”, ujarnya sambil mengingat-ingat awal mula merintis usaha.

Setelah sempat beberapa kali pindah lokasi, ia akhirnya memutuskan untuk mengembangkan usaha produksi tahu dan tempenya dari daerah kampung Belian. Semangat usahanya ternyata menular kepada beberapa tetangga di lingkungan yang baru.  Sekarang sudah ada 4 penggiat usaha sejenis yang melakukan produksi dari kampung Belian, Batam Centre. Salah satu penggiat usaha ini, bahkan sudah menjadi produsen tetap yang menyuplai tahu untuk sebuah restoran khusus tahu Sumedang di daerah Seraya.

Tahu tempe yang dihasilkan dipasarkan ke pasar-pasar di daerah Batam Centre seperti ke Pasar Mega Legenda dan Pasar Mitra Raya. Selain itu mereka juga memasarkan tahu dan tempenya ke pasar-pasar di daerah Sagulung dan Pasar Aviari Batuaji. Sebenarnya, Mereka pernah mau mencoba memasarkan tahu dan tempe yang diproduksinya ke pasar di Jodoh dan Nagoya. Tapi ternyata di pasar tersebut sudah ada pemasok  tahu dan tempe. ‘’Kami jual tempe dan tahunya ke pedagang-pedagang di pasar yang sudah langganan,” ujar Purwanto.

Selama ini, mereka menjual tempe ke pedagang di pasar –pasar dengan harga Rp900 rupiah per bungkus. Sedangkan untuk tahu berukuran kecil, mereka menjualnya dengan harga Rp250 per buah. Dari total produksi tempe yang mencapai 3.500 bungkus per hari dan harga jual tempe Rp950 per bungkus, maka omset mereka khusus tempe saja bisa mencapai Rp3.3 jutaan setiap hari. Sedangkan untuk tahu dengan total produksi sebanyak 14 ribu buah per hari, maka omset yang bisa didapatkan sebesar Rp3,5 jutaan per hari. Meski demikian, omset penggiat usaha tahu dan tempe akan semakin kecil pada hari Sabtu dan Minggu.

Di akhir pekan produksinya memang jauh lebih kecil dibanding hari biasanya. ”Sabtu dan Minggu pembeli tahu dan tempe menurun, jadi kita kurangi produksinya, supaya tidak rugi banyak. Produksinya disesuaikan dengan permintaan,” ujarnya.

Meski hitungan omset penjualan tempe mencapai Rp3,3 juta per hari dan omset penjualan tahu bisa mencapai Rp3,5 jutaan perhari, tapi sebenarnya itu tidak selalu tercapai. Soalnya ada beberapa hambatan, sehingga omset yang ditargetkan tidak tercapai.

Salah satunya tempe yang dipasok oleh mereka ke pedagang-pedagang di pasar tidak berhasil terjual semua. Bila itu terjadi, biasanya Ia tidak memasok tempe ke pedagang tersebut di hari berikutnya. ‘’Ya kita tunggu sampai tempenya habis,  baru besoknya kita pasok tempenya lagi,” ujar Purwanto.

Tempe –tempe yang tidak terjual, lalu membusuk itu tidak masuk dalam perhitungan omset. Selain itu, setiap memproduksi tahu, ternyata tahu yang mereka hasilkan tidak selalu dijual semua. Hanya tahu-tahu yang berpenampilan bagus yang mereka jual. Sedangkan tahu yang rusak tidak dipasarkan.

Faktor lain yang juga bisa menyebabkan omset tidak tercapai adalah kegagalan produksi tahu. Kata Purwanto, untuk membuat tahu,syarat mutlaknya kacang kedelainya harus tua.

Kalau kacang kedelainya masih muda, tahu yang dihasilkannya tidak bisa menggumpal.
Untuk masalah gagal produksi tahu gara-gara bahan baku kedelai muda, mereka-pun belajar dari pengalaman untuk mengatasi masalah itu. Biasanya mereka mengantisipasinya dengan tidak membeli kacang kedelai yang muda. Soalnya kalaupun  mereka paksakan memproduksi tahu dari kacang kedelai muda, itu sama artinya akan merugi.

Seperti juga para penggiat ekonomi kerakyatan di tanah air, para pelaku usaha kecil seperti Anto Wahyudi dan Sutarno  merupakan kelompok usaha yang terbukti cukup tangguh dalam menghadapi badai krisis.

Anto Wahyudi  dan Sutarno mengawali usahanya saat masa krisis moneter dan ekonomi melanda Indonesia 10 tahun lalu. Kini saat usahanya sudah berjalan dan mulai mapan, badai krisis lain siap menggoyang lagi. Tapi, orang-orang seperti Anto Wahyudi  sebenarnya tidak begitu peduli dengan persoalan krisis. Asalkan, bahan baku kedelai tetap lancar ada di pasaran dan harganya masih bisa terjangkau modal mereka. Yang penting masih tetap bisa berproduksi. (andriani susilawati)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s