Dari Tari Yapong Sampai Jaipong …

Bidadari, Penari  Spesialis Tari Tradisional

Di saat teman-teman sebayanya menyukai seni ke barat-baratan, Bidadari Mahardika Respati,  justru asyik menggeluti dunia tari tradisional. Dari tari yapong yang lembut gemulai sampai tari Jaipong yang lincah, semuanya dikuasainya.

blog-bidadari-2-fiman-wachyudiUsianya masih sangat belia, baru dua belas (12) tahun. Tapi rasa kecintaannya akan budaya nusantara begitu lekat dihatinya.  Bidadari, siswi Sekolah Global Indo Asia terlanjur jatuh hati dengan tari-tari tradisional dari Nusantara.

Belasan tari-tari tradisional dikuasainya. Mulai dari tari yapong asal Jawa Tengah dengan karakter lemah lembut hingga berbagai tari Bali dengan gerak bola mata yang unik. Ia juga pintar membawakan tari Panji Semirang, tari kebyar, tari kupu-kupu dan tari betawi. Tidak ketinggalan, tari Jaipong asal Jawa Barat juga ia kuasai.

Gadis kelahiran Jogjakarta, 30 Mei 1996 ini juga lihai membawakan tari melayu, mulai dari tari persembahan, tari japin hingga tari kreasi melayu.  ‘’Saya suka dengan tari tradisional,’’ ujar Bidadari Mahardika Respaty.

Kebisaan yang ia miliki sekarang tidak didapatnya dengan mudah. Tapi melalui proses panjang hampir selama enam tahun. Memiliki kepandaian menari perlu ketekunan, dan keinginan kuat untuk terus berlatih. Tapi yang terpenting adalah rasa hobi dan cinta untuk dengan budaya sendiri. Meski sibuk dan banyak tugas sekolah, ia menyempatkan diri untuk tetap latihan tari.

Untuk menguasai satu jenis tarian membutuhkan waktu yang relative bervariasi.Itu tergantung jenis tariannya. Tarian yang memiliki gerak yang cenderung sulit akan membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang dengan jenis tarian dengan gerakan mudah. ‘’Kalau tari yapong, cukup beberapa kali saja latihan sudah bisa,’’ ujarnya.

Sementara itu, saat mempelajari tari Jaipong dan Bali lebih membutuhkan waktu yang lama. Soalnya gerakannya lebih rumit. Karena itu, latihan taripun perlu ketekunnan khusus. Seorang penari juga tidak hanya perlu menguasai satu tarian, mereka juga harus punya mental saat akan menari di hadapan para tamu.

Sebut saja ketika akan membawakan tari persembahan di acara tertentu dengan dihadiri pejabat. Ia bertutur perlu keberanian tersendiri meski menari bersama beberapa penari lainnya. Keberanian semakin dibutuhkan saat ia membawakan tariannya seorang diri.  Salah satunya saat membawakan tari bali. ‘’Waktu pertama nari deg-degan juga, sekarang nggak lagi,’’ katanya.

Tradisi adanya tari persembahan dalam membuka acara di Kota Batam khususnya dan Provinsi Kepulauan Riau pada umumnya membuat Bidadari bersama teman-temannya sering diundang. Ia-pun Sering tampil, di sekolah pernah, di pusat perbelanjaan hingga di acara –acara tertentu yang dihadiri oleh pejabat.

Dari sekian banyak kebisaan membawakan tarian, selama penampilan di hadapan umum, paling sering Bidadari membawakan tari persembahan. Sementara menari Jaipong, Bali, Kupu-kupu hanya sesekali saja.

Saat diundang untuk membawakan tarian, Bidadari juga mendapatkan upah. Tapi itu bukanlah tujuan utamanya. Menurutnya, melalui tari tradisional yang ia tekuni secara tidak langsung ikut melestarikan budaya sendiri.  ‘’Kita harus bangga dengan budaya sendiri. Saya juga senang jadi punya banyak teman,,’’ ujarnya.

Ketertarikan Bidadari pada tari tarian tradisional tidak terlepas dari dorongan kedua orangtuanya yaitu  Rekaveny dan Suryo Respatyono.  Kala itu, Bidadari masih berusia 6 tahun. ‘’Saya lihat, ini anak kok pemalu. Tapi di depan kelas berani menari-nari sendiri,’’ ujar Rekaveny., yang ikut mendampingi Bidadari saat itu.

Lama memikirkan karakter anaknya yang cenderung pemalu, akhirnya ia mencari ide untuk membuat sebuah sanggar sendratari. Dinamailah Sanggar Sendratari Bidadari. Nama sanggarnya sengaja diambil dari nama anaknya. ‘’Saya dirikan sanggar sendratari tahun 2004,’’ujarnya.

Ia berharap dengan memiliki kemampuan menari, anaknya akan menjadi lebih brani dan lebih supel. Jauh sebelum Bidadari tidak punya teman. Sekarang, seiring dengan berjalannya waktu, cita-cita membuat anaknya jadi lebih berani terwujud.

Di sanggar sendratari itulah, Bidadari menimba ilmu tentang segala tari-tarian tradisional.  Ia belajar dari seorang guru tari yang biasa dipanggil Pakde Demprong. Pakde Demprong, punya keahlian menari segala tari tradisional di Nusantara. Mulai dari tari di Sumatera, Pulau Jawa, Bali dan tari daerah lainnya di Indonesia.

Meski awalnya diarahkan oleh ibunya, Bidadari mengaku saat ini ia merasakan  banyak manfaatnya. Lewat tarian kini jadi punya banyak teman. Alasan lain yang membuat Bidadari tertarik menggeluti tari tradisional adalah karena sifatnya fleksibel.

Itu sangat berbeda dengan tari balet. Hanya di acara-acara tertentu di kota Batam tari balet bisa tampil. Kebanyakan penarinya juga anak-anak. Sedangkan kalau tari tradisional, meski kita remaja dan dewasa kita bisa tetap membawakannya.

Rekaveny menambahkan pendirian sanggar sendratari Bidadari tidak semata-mata untuk menyalurkan bakat anaknya bisa tersalurkan. Tapi juga diharapkan bisa menjadi tempat untuk menampung bakat anak-anak Batam yang hobi menari. Dengan adanya sanggar sendratari khusus untuk mempelajari tari tradisional, ia  berharap tari-tarian tradisional bisa terus lestari di Batam.

Jika itu sudah terwujud akan membuka peluang kota Batam sebagai tempat tujuan pariwisata dengan andalan seni budaya. Tengok saja di Bali, punya daya tarik luar biasa sebagai kota dengan budayanya yang kental. Anak-anak, remaja hingga dewasa  ramai-ramai menguasai tari. ‘’Kalau anak-anak sebenarnya tergantung orang tuanya. Disini banyak yang anaknya suka tari. Tapi orang tuanya kurang mendukung. Saat jadwal latihan menari, mereka enggak mengantarnya,’’ ujar Rekaveny, yang juga caleg DPRD Kota Bata mini.

Ingin menghidupkan rasa cinta budaya pada anak-anak Batam, Rekaveny dan guru tari di sanggarnya tidak mematok biaya yang mahal. Biayanya cuma Rp50 ribu per 8 kali pertemuan. Disana anak-anak tidak hanya belajar aneka tari tradisional, tapi juga belajar gamelan, sebuah seni budaya jawa yang sudah sangat jarang ditemui di saat sekarang.

Rekaveny berharap semua pihak terutama pengelola tempat wisata bisa bekerjasama memberi tempat untuk memberi kesempatan pelajar Sanggar Sendratari Bidadari dan sanggar sendratari lainnya di Batam menampilkan kebolehannya. ‘’Sangat bagus sekali, kalau saat ada kunjungan wisatawan, anak-anak diundang untuk tampil menghibur para wisatawab dengan tari tradisional,’’ ujarnya. (andriani susilawati)

catatan : tari piring dari sumatera barat, tari merak jawa barat, tari jaipong dari Jawa Barat, tari Yapong dari Jawa Tengah, tari Ngeremo asal Jawa Timur, Tari Srimpi, tari kebyar kreasi dari Tari Bali, Tari Merak, Tari Kupu-kupu

4 pemikiran pada “Dari Tari Yapong Sampai Jaipong …

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s