Kontradiksi Harry

image

KALAU dia tidak menyebut panggilan kecilku, belum tentu aku bisa mengenalnya. Kulitnya memang masih sama legam. Kumis lebatnya juga masih tetap dipelihara. Minus cambang lebat yang dulu begitu kukenal. Tapi perawakan dan wajahnya begitu berbeda. Ia terlihat ringkih sekarang.

Dulu, aku cukup mengenalnya dengan sebutan om Aik. Pria Ambon yang begitu baik hatinya Di keluarga kami, posisinya sudah seperti paman sendiri. Nama lengkapnya Harry Tahapary. Kami sekeluarga jadi begitu dekat karena kesamaan nasib.

Sama-sama orang perantauan yang tinggal di lingkungan keluarga besar Direktorat Jenderal Perhubungan Udara di Bandara Kijang Tanjung Pinang sekitar akhir tahun 70-an hingga pertengahan 80-an silam.

‘Masih ngerokok om, ngopi ya’,

Tanyaku di pertemuan perdana setelah 25 tahun tidak pernah bertemu.

Om Harry datang malam-malam di saat hujan lebat turun. Ia diantar sebuah mobil kenalannya.

‘Om udah nggak ngerokok. Teh aja deh’, jawabnya sambil senyum.

Tidak merokok? Teh saja? Apa ini tidak salah?

25 tahun lalu om Harry adalah perokok berat. Kesenangannya Dji Sam Soe kretek. Sama denganku sebelum akhirnya beralih ke merk lain 3 bulan terakhir karena alasan lebih sadar kesehatan. 🙂

25 tahun lalu juga, kopi adalah kegemarannya. Aku sampai hapal takarannya ;

4-5 sendok kopi untuk satu cangkir plus satu sendok kecil gula pasir!

Malam pertemuan itu, kami ; aku, bapak dan om Harry terlibat obrolan panjang tentang memori masa lalu. Kami bercerita panjang tentang kenangan.

————-

OM Harry Tahapary adalah seorang pegawai Badan Meteorology dan Geofisika. Kalau mengingatnya dulu, aku sering menyamakannya dengan bintang serial TV –Chips, Eric Estrada.

Ya rambutnya, kulitnya, hingga penampilan kacamata rayban yang selalu jadi favorit untuk dikenakannya. Tampilannya selalu dandy.

Dulu, ia suka mengenakan kemeja hem yang dibuka dua kancing teratasnya sehingga menampakkan bulu-bulu di dada. Celananya model cutbray. Khas seperti model retro yang kita kenal di zaman sekarang.

Om Harry yang kukenal dulu memang orang yang peduli penampilan. Kecuali jika ia sedang tidak punya uang.

Ya, om Harry adalah sosok yang baik hati, tapi senang main judi. Favoritnya main kartu ceki di warung nasi mbah Harjo yang terletak di samping rumah dinas keluarga kami. Kalau sudah main, ia betah berjam-jam bahkan sampai pagi.

Entah sudah berapa kali ia dimarahi almarhumah Ibuku karena hobinya yang satu itu. Tapi, om Harry paling hanya tertawa dan kemudian mengulanginya lagi.

Ia juga tipe playboy, senang berganti-ganti pacar. Tapi, biasanya setiap pacar om Harry selalu dikenalkan kepada keluarga kami di rumah.

Di sisi lain, om Harry juga bisa sangat telaten menjaga dan menjadi teman mainku serta dua saudaraku yang lain di saat bapak dan ibu pergi berbelanja ke kota untuk membeli pesanan barang dagangan.

Dulu, selain penghasilan sebagai PNS, bapak juga punya usaha sampingan lain. Berdagang produk-produk impor dari Singapura.

Barangnya bisa apa saja. Mulai pakaian, tas, hingga produk elektronik yang dikirimkan ke kota-kota lain di Indonesia melalui jasa penerbangan.

Bapak menyebut aktifitasnya badegol. Entah apa maksudnya. Sampai sekarang aku memang tidak pernah menanyakan artinya.

Oh ya, Om Harry yang kukenal juga merupakan teman main dan guru yang sangat baik. Ia mengajariku bagaimana cara menggambar, menulis dan berhitung.

Saat malam, om Harry juga bisa menjadi pendongeng yang mengasyikkan. Ceritanya bisa apa saja. Yang penting sukses membuatku tertidur nyenyak.

Kenangan lain yang masih melekat tentang om Harry adalah kebiasaannya mengajak aku dan dua saudaraku untuk menikmati hidangan tahu goreng di daerah Kijang. Biasanya, seminggu sekali kami pasti ke sana.

Berangkat sekitar pukul 4 sore dengan menempuh jarak perjalanan 15 kilometer menggunakan vespa milik bapak. Tujuannya cuma untuk menikmati hidangan tahu goreng.

Kata om Harry, tahu goreng di sana adalah yang paling enak yang pernah ia temui di Bintan.

Tahun 1985, om Harry dapat SK pindah tugas. Ia kemudian memberitahu kami sekeluarga dan mengatakan tidak mau pindah. Om Harry ingin tetap bersama-sama keluarga kami.

Bapak marah, tapi kemudian menasehati om Harry dan mengatakan bahwa SK pindah itu adalah jalan kariernya, masa depannya. Om Harry menangis, ibu menangis. Aku dan saudara-saudaraku juga sedih. Aku yakin, bapak juga ikut sedih.

Tapi, keputusan tetap harus dijalani. Di suatu sore tahun 1985, aku, bapak, abang dan adikku mengantarkan kepergian om Harry di terminal bandara Kijang.

Ibu tidak mau ikut karena tidak kuat melepas kepergiannya. Menjelang berangkat, om Harry menangis, meraung, memeluk kami semua. Kemudian pergi tanpa menoleh lagi.

Itu saat terakhirku melihatnya. Kemudian om Harry hilang dan tidak ada kabarnya lagi.

———–

OM Harry yang sekarang, duduk persis di depanku, di samping bapak. Rambutnya sudah tidak gondrong ikal seperti Eric Estrada lagi.

Sudah lebih cepak dan menipis. Kumis lebatnya memang masih setia dipelihara. Tapi sudah minus cambang lebat seperti yang dulu kukenal. Badannya mulai ringkih karena termakan usia. Sekarang umurnya memang sudah mulai senja, 53 tahun.

Ia mengabarkan telah memiliki keluarga. Bukan lagi playboy yang suka ganti-ganti pacar. Anaknya dua, yang paling besar sudah SMP.

Ia kini bertugas di kantor pusat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika di jalan Angkasa Kemayoran, Jakarta. Mungkin, ini jadi tahun-tahun terakhirnya sebelum benar-benar pensiun 3 tahun lagi.

Katanya, bukan hanya kopi dan rokok. Banyak kebiasaan jelek lainnya yang sudah lama ditinggalkan.

Saat berbicara, suaranya sudah tidak selantang dulu. Lebih sering terdengar getaran. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin ada penyakit yang diderita. Setiap menatapku, kulihat wajah om Harry juga sering berkaca-kaca. Beberapa kali ia mencoba menggali kembali kenangan masa lalu kami. Saat aku kecil bersamanya.

‘Kamu pernah hampir mati karena bergelantungan di belakang vespa yang sedang om bawa. Demi Tuhan, om nggak tau kamu mau ikut dan om sama sekali nggak ngeliat kamu ada di belakang sampai bapak yang memberi tau’.

Om Harry memunculkan satu memori kenangannya tentang aku dan aku hanya tersenyum kecil.

Rentang waktu itu rasanya begitu pendek. Aku seperti masih berada di masa 25 tahun lalu. Otakku juga masih terus menggali-gali sosok om Harry yang kukenal dulu. Sosok kontradiksi tapi begitu membekas di hati.

Tapi akhirnya di sinilah aku. Di depan sosok om Harry yang sekarang. Rentang waktu memang telah membuat kami banyak berubah. Tapi tidak dengan ikatan batin di antara kami.

Malam itu, kami bertiga meneruskan ngobrol sampai lewat tengah malam. Hingga akhirnya mata kami lelah dan perlu beristirahat.

Bapak sebenarnya sudah menyiapkan kamar untuk om Harry. Tapi ia lebih memilih tidur di ruang TV. Sama seperti kebiasaannya di rumah kami 25 tahun yang lalu. (*)

22 Desember 2009

2 pemikiran pada “Kontradiksi Harry

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s