Just Declare about Him

 

 

pontianak post

SAYA BARU kenal namanya saat masih kuliah dulu. Waktu itu krismon, kondisi tidak menentu. Kurs rupiah terdepresiasi rendah sekali. Sementara, harga barang-barang melambung tinggi.

Namanya memang sudah melekat dalam label Jawa Pos, koran yang saya “langgani” tiap bulan berpatungan dengan teman-teman satu kost. Gara-gara krismon itu juga, harga Koran langganan kami itu naik. Dari Rp. 29 ribu per bulan jadi Rp. 32 ribu per bulan. “Cuma” Rp 3 ribu. Tapi zaman saya dulu, itu berarti sama dengan dua bungkus nasi ayam penyet atau jatah makan satu hari.

Kenapa harus Jawa Pos? Terus terang, ini memang berhubungan dengan isi kantong kami, maklum anak kost. Pertimbangan lain, informasi yang disajikan dalam koran itu juga sudah lumayan mencakup informasi yang ingin kami dapatkan. Ada berita Nasionalnya, berita daerah Jawa Timurnya (tempat saya tinggal selama kuliah, pen) lumayan lengkap. Berita sepak bolanya juga tidak ketinggalan. Satu lagi, penyajian gaya bahasa dalam berita-beritanya mudah dicerna. Tidak berat, begitu kami sering menyebutnya.

Japos menciut, ya opo iki rek? Iwan, teman satu kost saya teriak di suatu pagi tahun 1998. ia kaget, lebar halaman Jawa Pos berubah jadi seperti tabloid mingguan. Suatu hal yang tak lazim dilakukan oleh koran yang terbit harian. Di halaman depannya ada pengantar redaksi yang menjelaskan kenapa koran itu menciut. Intinya begini :

Krisis yang berkepanjangan berimbas ke banyak sektor. Yang paling terasa oleh Jawa Pos adalah kenaikan yang tinggi terhadap kertas yang merupakan bahan baku koran. Untuk mensiasati agar tetap bisa terbit, mau tak mau Jawa Pos harus berubah. Salah satu perubahannya adalah pada tampilan lebar halamannya yang kini menjadi 7 kolom…

Walau berusaha jujur terhadap pembaca dalam menyikapi kondisi yang ada, Jawa Pos juga menyampaikan alasan “pembenaran” terhadap perubahan yang dilakukannya. Isinya kira-kira begini :

…. Dengan perubahan itu, membuat Jawa Pos jadi satu-satunya koran harian di Indonesia yang memiliki format halaman 7 kolom, tidak lagi 9 kolom seperti koran harian konvensional  lainnya. Dengan format begitu, Jawa Pos jadi lebih ringkas dan mudah dibaca dimana saja. Membuka 2 halaman koran Jawa Pos sekaligus, sekarang tidak perlu membentangkan tangan lebar-lebar lagi. Cukup setengah atau tiga perempat bentangan. Itu bisa dilakukan pembaca di rumah, di halte bus yang sedang ramai penumpang dan berdesakkan atau di dalam kabin bus kelas ekonomi yang memiliki kursi 3 berjejer…

Menurut saya “analisisnya” narsis, tapi sangat masuk akal. Pun begitu, alasan itu tetap tidak bisa mempertahankan saya dan teman-teman satu kost untuk tetap berlangganan koran tersebut. Masalahnya, perubahan itu juga diikuti oleh kenaikan harga langganan. Kalau saya tidak salah ingat, naiknya dari Rp 29 ribu menjadi Rp 32 ribu per bulan. Bagi kami yang cuma mengharapkan “belas kasihan” orang tua masing-masing, ini jelas memberatkan.

Pilihan kemudian jatuh pada koran lain asal Surabaya yang terbit sore hari. Alternatif ini dipilih karena loper langganan kami bilang harga langganannya jauh lebih murah, hanya Rp 25 ribu per bulan. Tapi, pilihan baru itu ternyata tidak berlangsung lama, hanya sebulan. Kami tidak mendapatkan informasi seperti yang pernah kami peroleh dari Jawa Pos. Walau agak “terpaksa” karena harus menaikkan iuran koran bulanan, kami berlangganan Jawa Pos lagi.

Saya pikir, sejak dulu Dahlan Iskan memang sudah senang menuliskan catatannya untuk kemudian diterbitkan dalam korannya. Kalau tidak salah ingat, saya pernah membaca tulisannya tentang langkah efisiensi yang coba dilakukan untuk menghadapi badai krisis moneter.

Selain menciutkan halaman jadi 7 kolom (10 tahun kemudian, format koran seperti Jawa Pos akhirnya  diikuti hampir seluruh media cetak harian di Indonesia, pen), ia juga pernah mewajibkan para karyawan termasuk kru redaksi untuk merangkap tugas sebagai tenaga pemasaran koran. Saya lupa berapa persisnya. Tapi, setiap hari seluruh karyawan punya kewajiban tambahan untuk menjual beberapa eksemplar koran yang baru terbit. Semua harus habis terjual karena tidak ada istilah retour atau koran kembali karena tidak laku. Kalau ada retour, itu berarti tanggung jawab si karyawan.

Dengan langkah-langkah efisiensi yang dilakukan, Jawa Pos memang berhasil lolos dari lubang maut krisis moneter. Malah menurut penilaian saya, krisis moneter yang terjadi justru jadi tonggak sejarah kemajuan pesat Jawa Pos hingga mengakar ke berbagai daerah seperti sekarang. Menjelang tahun 2000 saja, koran itu bahkan sudah bisa “menyabangi” beberapa kota dalam bentuk suplemen Radar-nya. Suplemen Radar itu kemudian berkembang jadi koran sendiri di bawah JPNN.

———-0———-

 

TAHUN 2003, saya sudah jadi bagian dari ribuan karyawan dalam grup Jawa Pos. Saya bertugas di Batam. Awalnya bekerja sebagai reporter di salah satu koran metro lokal dalam salah satu kapal induk Jawa Pos (terus terang, ini meminjam istilah dalam buku “Jawa Pos Koran kita”, pen) di Riau Pos Grup. Kemudian ditarik pindah ke perusahaan televisi masih dalam grup yang sama.

Itu merupakan tahun pertama saya bertugas di perusahaan televisi tersebut. Lokasi kerja kami masih satu atap dengan hotel Nagoya Plaza di lantai 8. Sementara bangunan yang kami tempati, sebenarnya bukan bangunan yang menyatu dengan bangunan hotel. Itu adalah ruang-ruang yang didirikan di atas puncak gedung. Di sana juga berkantor manajemen hotel yang masih masuk dalam grup usaha Jawa Pos saat itu.

Namanya stasiun televisi baru yang berkonten lokal, ruang kontrol studio kami saat itu juga masih menumpang di salah satu ruangan lantai dua hotel. Sementara menara pemancar, kami tempatkan di puncak gedung. Berdekatan dengan ruang kantor. Daya pancar siarannya juga masih terbatas, hanya 500 watt.

Suatu sore menjelang magrib, seperti biasa saya baru saja selesai melaksanakan aktifitas kerja. Tidak langsung pulang, saya beristirahat sebentar di teras terbuka puncak gedung sambil memandangi kota Nagoya saat senja. Saat itu hari sudah hampir gelap. Saya duduk dekat menara pemancar sambil menghisap rokok kretek.

Tiba-tiba, menara pemancar yang hanya bertopang pada beberapa sling baja itu bergoyang keras. Ada yang menggoyangnya. Saya melihat ada seorang pria setengah baya yang menggoyang-goyang menara itu.

“Wah wah wah, kalau roboh bagaimana ini? Siapa orang itu?” pikir saya.

Karena samar dan tidak jelas, saya dekati pria dengan setelan hem putih lengan panjang yang kedua ujungnya dilipat itu. Ia mengenakan celana kain warna gelap dan bersepatu kets putih.Yang bisa terlihat jelas dari wajahnya, ia berkacamata.

Saya ingin menegur agar jangan menggoyang-goyang menara karena efeknya bisa fatal. Menara itu bisa roboh karena hanya ditopang beberapa utas sling baja. Jika itu terjadi, stasiun televisi tempat saya bekerja akan berhenti siaran dan saya bisa jadi penggangguran sementara.

“ Ini menara pemancar untuk stasiun TV atau tiang antena TV?  kok begini?” kata si pria berkacamata itu sambil mendumel sendiri, tapi pandangannya mengarah ke saya.

Karena penasaran, saya dekati lagi pria itu sampai berhadapan. Dan kemudian, saya kaget setengah mati. Dia Dahlan Iskan, si Bos Japos yang juga bos dari stasiun Televisi tempat saya bekerja.

“Ini daya pancarnya berapa?” Tanya Dahlan Iskan. Pertanyaan kali ini jelas ditujukan pada saya karena hanya kami berdua yang ada di teras puncak gedung itu.

“Malam pak, itu daya pancarnya masih setengah kilo”, jawab saya setelah hilang rasa kaget.

“Setengah kilo berarti cuma Nagoya, tok…. TV ini seharusnya dikasih nama Nagoya TV, ya”, lanjut Dahlan sambil menepuk-nepuk tiang menara yang memang tidak kokoh itu.

“Kerja di sini?” tanyanya lagi.

“Iya pak, saya kerja di stasiun televisi ini”, jawab saya.

Dahlan Iskan kemudian mendekati dan merangkul  bahu belakang saya.

“Sabar ya, ini kan TV baru.  Sebagai apa?” Tanya Dahlan Iskan sambil tetap memegang bahu belakang saya. ia kemudian menggiring saya untuk berjalan beriringan di atas puncak gedung.

“Masih wartawan biasa, pak.  Saya reporter,” jawab saya.

“Kok sendiri, mana teman-teman yang lain? Bos-mu ada?

“Ada pak, ayo saya antar ke ruang redaksi”. Kami kemudian berjalan menuju ruang redaksi yang berjarak hanya 10 meteran saja dari lokasi menara.

Itu jadi pertemuan pertama saya dengan Dahlan Iskan setelah setahun bekerja…

———-0———-

Tahun 2010, stasiun TV tempat saya bekerja, sekarang juga sudah jauh berkembang. Daya pancarnya sudah tidak lagi setengah kilo, tapi sudah 5 kilowatt. Akses siarannya juga sudah merambah hingga ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Homebase kami di gedung megah berlantai sembilan, Graha Pena.

Kami siaran 18 jam sehari dengan program-program  unggulan dari divisi yang saya kelola. Omset pendapatannya juga sudah lumayan sehingga kami bisa merasakan pembagian keuntungan dari perusahaan tiap tahunnya.

Menjelang akhir Juli lalu, saya dapat undangan (tapi, lebih tepatnya penugasan karena yang meminta adalah Dirut JPNN – Rida K Liamsi yang juga Dirut stasiun TV saya, pen). Acaranya pertemuan para Pemred se-Jawa Pos grup dari seluruh Indonesia. Ini sebenarnya acara pertemuan para Pemred dari media cetak. Tapi, pak Rida juga mengikutsertakan beberapa Pemred Stasiun TV, termasuk saya.

Walau heran, tapi saya menganggap ini kegiatan yang bagus. Forum diskusi antar Pemred se-Indonesia. Yang membuat acara ini saya nilai berbobot karena kegiatan diskusi juga menghadirkan tokoh-tokoh news maker nasional.

Ada Dirut Pertamina Karen Agustiawan yang tabung-tabung gas 3 kg-nya sedang bikin heboh. Ada ketua umum partai Demokrat Anas Urbaningrum yang baru saja “memenangkan” pertarungan internal partainya dalam pemilihan ketua partai Demokrat baru-baru ini. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga dihadirkan dalam diskusi tersebut. Terakhir yang membuat saya lebih bersemangat adalah kehadiran Dahlan Iskan, si bos Japos itu.

Saya selalu tertarik dengan sosok Dahlan Iskan. Menurut saya, ia sosok yang sederhana, lugas dan nyentrik. Alasan lain, dalam diskusi itu ia tidak memposisikan sebagai bos Japos, bosnya kami. Tapi sebagai Dirut di PT PLN (persero).

Saya ingin mendengar langsung cerita di balik layar tentang gebrakannya “mendandani” perusahaan negara yang selalu mengklaim rugi terus, padahal memonopoli hampir seluruh energi listrik di negeri ini. Saya juga ingin tahu, seberapa efektif dia mengelola PLN dalam rentang setengah tahun pertama masa tugasnya itu.

Tepuk tangan riuh dari kami menyambut Dahlan Iskan saat muncul di pintu ruang pertemuan, lantai 6 hotel Ciputra. Saat itu, Dahlan mengenakan kemeja merah lengan panjang dan bercelana kain gelap. Kebiasaan lamanya yang selalu melipat ujung kemeja, masih jadi ciri khas Dahlan Iskan.

Ia membawa satu map berisi kertas-kertas, mungkin data kerjanya di PT PLN (persero) dan satu unit notebook (atau mungkin IPAD. Pirantinya terselubung di dalam bungkus kulit, pen).

Saat masuk dan berjalan ke panggung utama pembicara, ia memandang kami secara keseluruhan, kemudian menarik nafas panjang dan tersenyum.

“ Hhhh… saya punya janji pada diri sendiri untuk tidak ngurusi Jawa Pos dan tidak mau tau tentang Jawa Pos termasuk kalian selama enam bulan pertama masa kerja di PLN. Tapi sekarang kan sudah lewat 6 bulan, jadi saya tidak melanggar janji ya”, kata Dahlan membuka percakapan bersama kami malam itu sambil tersenyum lepas.

Kemudian, saya melihat Dahlan Iskan yang lain. Dahlan yang bukan orang Jawa Pos. Ia profesional dengan menempatkan dirinya sebagai orang PLN.  Dahlan banyak bercerita tentang target enam bulan pertamanya, berusaha menekan pemadaman listrik bergilir yang terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia. Dan, saya pikir ia cukup berhasil.

“Saya serius dengan usulan listrik gratis”, katanya di salah satu tema diskusi soal ide yang pernah dilontarkannya tentang wacana listrik gratis untuk orang miskin.

Katanya, ide awal memunculkan wacana listrik berangkat dari kejengkelannya terhadap alasan beberapa pihak yang menolak kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). Masyarakat selama ini menurutnya, menolak kenaikan TDL karena selalu kasihan kepada orang miskin.

“Saya justru jengkel dengan alasan itu. Kalau memang sama-sama kasihan dengan orang miskin, kenapa justru tidak digratiskan sekalian,” katanya.

Kata Dahlan, semula ia hanya bergurau karena jengkel. Tapi setelah dihitung-hitung, hal itu ternyata masuk akal. Asumsinya, listrik untuk orang miskin digratiskan, tapi untuk golongan lain dijual dengan harga normal.

Hitung-hitungannya, dengan memberikan seluruh subsidi kepada golongan masyarakat miskin (pengguna 450 VA dan 900 VA) dan pembayaran normal atau sebesar biaya produksi listrik (Rp 1.000 per kwh) oleh golongan lain, maka PT PLN akan kehilangan dana sebesar Rp 1,5 triliun, tetapi dapat penerimaan sekitar Rp 30 triliun.

“Yang masuk kategori itu rumah yang diberi 5 buah lampu cukup, televisi sebagai kebutuhan dasar, radio, CD, Rice Cooker, setrika dan kipas. Ini  dipakai gantian,” katanya.

Usulan itu tentu saja mendapat tentangan besar. Dahlan juga sadar, idenya tidak tepat untuk diterapkan saat ini. Makanya, ia tidak ngotot untuk terus memperjuangkannya sekarang.

“TDL itu murni keputusan politik. Wong PLN beli bahan bakunya harga pasar, harga internasional,  trus jual listriknya harga pemerintah!” lanjutnya.

———-0———-

Dalam diskusi, Dahlan Iskan banyak menjelaskan tentang pengalaman 6 bulan pertamanya mengelola PT PLN (persero) serta targetnya untuk membebaskan Indonesia dari krisis listrik tahun 2012.

“Saya ingin listrik itu cukup di Indonesia, bukan sekedar dicukup-cukupkan”, katanya saat menggambarkan kondisi listrik nasional saat ini.

Ia fasih saat menjelaskan detil-detil masalah. Dalam enam bulan pertama masa tugasnya, Dahlan Iskan sudah berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk menginventarisir permasalahan yang terjadi.

Saya sampai geleng-geleng kepala saat beberapa teman Pemred dari Sumatera Barat, Tapanuli, Kalimantan atau Papua menyampaikan permasalahan listrik yang terjadi di daerah mereka. Ia ternyata juga sudah tahu lokasinya dan bisa menggambarkan serta sudah punya alternatif penyelesaian.

Mengikuti diskusi dengan Dahlan Iskan, saya seperti kembali ke zaman kuliah dulu saat mengikuti mata kuliah Teknik Tenaga Listrik. Seperti dosen senior saya, Ir. Almizan Abdullah MSEE, Dahlan bisa sangat fasih menerangkan tentang sistem kerja sebuah PLTA sambil menggambar bagan-nya di kertas putih.

Kalau yang menerangkan itu dosen saya yang teman satu kuliah BJ Habibie di ITB dulu, saya sudah cukup maklum. Almizan Abdullah adalah juga orang di balik perencanaan dan pembangunan banyak bendungan untuk keperluan PLTA di Indonesia. Tapi, Dahlan Iskan kan bukan insinyur teknik kelistrikan? (***)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s