Memoar sebuah Memori

JALAN POS di Tanjung Pinang masih sama seperti hampir 30 tahun lalu. Ruas jalannya kecil. Jadi saat ada kendaraan roda empat berpapasan dengan misalnya becak pengangkut barang, salah satu biasanya harus mengalah. Turun ke bahu jalan di luar aspal. Keruwetan bakal bertambah karena badan jalan juga digunakan untuk parkir kendaraan.

Walau sudah lama tidak melintasi jalan ini, rasanya saya masih hapal dengan nama-nama toko yg berjajar. Juga masih sama seperti hampir 30 tahun lalu. Yang dijual juga sama. Hanya saja, bangunannya sudah mulai menua karena termakan usia.

Saya ingat, dulu di toko pakaian yang ada di ujung jalan pos dan mengarah ke pasar basah, saya dibelikan satu setel pakaian warna biru oleh bapak. Pakaian itu sempat jadi pakaian favorit kebanggaan saat kecil. Di depan toko itu, saya sempat berhenti sebentar. Penjualnya seorang lelaki keturunan Tionghoa yg sudah berumur. Walau tidak begitu yakin, saya rasa pria itu dululah yang menjualkan satu setel pakaian tersebut pada saya.

Ia menatap saya dan tersenyum.

“Silahkan, pak. Mungkin ada yang cocok untuk anaknya”, ujar sang penjual.

“Tidak, terima kasih”, balas saya sambil tersenyum.

Dua atau tiga ruko dari toko pakaian tadi, di seberangnya, saya melihat sebuah ruko tua lain. Isinya  tumpukkan plastik kresek hitam yang diletakkan begitu saja. Tidak bisa dikatakan rapi. Ada juga karet-karet gelang dalam jumlah lumayan banyak. Seorang wanita keturunan tionghoa lain yang usianya saya tebak sudah lebih dari 60-an tahun, sibuk mengatur tumpukan plastik-plastik kresek itu. Di sebelahnya ada seorang pria tionghoa juga -mungkin sekitar 40-an tahun- ikut membantu sang wanita tua. Mereka sedang merapikan dagangan sambil menunggu pembeli.

Saya ingat toko ini. Dulu, saya sering dibawa bapak untuk membeli karet-karet gelang. Saya membeli Karet-karet gelang untuk bermain lastikkan (istilah permainan seperti main gundu, tapi menggunakan karet gelang -pen) bersama teman-teman. Tapi, saya lupa apakah dua orang tersebut adalah orang yang sama seperti 30 tahun lalu. Mungkin iya.

Sambil jalan, saya kemudian berpikir-pikir sendiri. Para pemilik toko di sepanjang jalan ini mungkin rata-rata memang tidak ngoyo dalam berusaha. Yang penting bisa terus berdagang dengan hasil digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja, tidak lebih. Jika memang berkelanjutan, usaha mereka diteruskan keturunannya yang mungkin akan mengadopsi pola berusaha yang sama.

Jalan pos memang bukan jalan besar. Panjangnya juga tidak sampai 1 km. Tapi, ini adalah salah satu denyut nadi kota Tanjung Pinang. Para pedagang di ruko-ruko tua menjajakan dagangan mereka. Mereka bertahan atau mungkin setia di tengah lindasan zaman. Ada hilir mudik para penarik becak barang menuju pelabuhan rakyat yang biasa disebut pelantar. Lalu lintasnya juga selalu padat. Beberapa bangunan ruko diantaranya memang ada yg berubah nama. Bentuk bangunannya juga berubah. Mungkin karena dijual atau perubahan bidang usaha dari pemilknya. Tapi itu belum sampai merubah wajah jalan ini selama puluhan tahun.

————***————

“Hey, ini toko kelontong langganan keluarga saya”, teriak saya dalam hati saat melintas di ujung jalan masuk di ruas jalan ini.

Separuh bangunan toko yang menyita perhatian saya ini mengarah ke jalan Merdeka yang merupakan jalan utama di kota kecil ini. Bagian sampingnya masuk ke area jalan Pos. Namanya belum berubah. Masih tetap menggunakan nama “toko Aliki”. Pengaturan dagangan di toko itu juga masih sama.

Di bagian luar diletakkan buah-buah import seperti jeruk sunkist dan apel merah. Agak ke dalam, berjejer kaleng-kaleng roti biskuit merk khong guan. Benar-benar tidak berubah. Seiring perubahan zaman, toko ini sebenarnya sudah sangat bisa menerapkan pola berdagang ala supermarket. Ini merupakan salah satu toko yang laris dan selalu dikunjungi pembeli. Tapi, kenyataannya tidak. Pengelolanya tetap menggunakan konsep berdagang seperti dulu. Dan saya lihat, toko ini sebenarnya masih laris.

Bergerak sedikit ke jalan Merdeka, dulu saya merasa jalan ini begitu besar. Maklum ini merupakan jalan utama di Tanjung Pinang. Tempat warga dan pedagang tumpah ruah dalam berbagai transaksi ekonomi. Sekarang, rasanya begitu sesak oleh hilir mudik kendaraan dan jejeran kendaraan yang diparkir.

Saya berjalan di koridor pertokoannya yang sebelah kiri. Mulai dari toko Aliki terus ke arah jalan Pasar. Sepanjang koridor saya bisa lihat semuanya hampir tidak berubah juga. Toko-toko yang berjejer rata-rata masih menjual barang dagangan yang sama. Ada toko “Panjang” yang tulisan nama tokonya masih menggunakan papan yang sama seperti hampir 30 tahun lalu. Isi jualannya juga hampir sama.

Di pertengahan komplek ruko, ada lorong hotel Tanjung Pinang yang juga masih dijejali oleh para pedagang kaki lima. Mereka menawarkan barang dengan gaya yang sama. Saya enggan melintasi lorong ini karena malas membalas sapaan para pedagang yang mencoba menawarkan jualan mereka. Tapi kalau mau diteruskan, lorong ini tetap sama. Mengarah ke jalan Pos yang begitu melegenda bagi saya itu.

Di depan toko aladdin, saya sempat berhenti. Dulu, toko ini terkenal sangat hingar bingar karena menjual aneka kaset lagu-lagu. Mulai lagu anak-anak, artis indonesia yang sedang booming hingga lagu-lagu barat yang sedang in saat itu. Banyak orang yang mampir ke toko ini. Sekarang, hampir separuh ruangannya kosong. Isinya hanya panci-panci stainless murahan dan peralatan dapur yang tidak bisa dibilang lengkap.

Perubahan zaman dan pola kebiasaan orang, memang menggerus usaha sang pemilik toko ini. Mungkin juga karena terlambat mengantisipasi perubahan prilaku konsumen. Pada kenyataannya, toko ini sekarang sepi.

Oh ya, ada satu memori lagi tentang kota ini. Penjual roti tawarnya. Nama tokonya “zaman tukang roti”. Dulu, saya sering mampir bersama bapak untuk membeli roti tawar yang jadi bekal saya ke sekolah. Tokonya ada di jalan Bintan. Dari jalan Merdeka, kita cuma perlu berjalan kaki sekitar 5 menit. Sampai sekarang toko itu masih tetap ada. Pengelola yang sekarang -mungkin anaknya, pen- sudah mendiversifikasi usaha dengan membuat produk makanan yang lain seperti kue tart dan cake. Tapi, pengemasannya memang masih kalah jauh dari toko-toko kue di kota lain yang muncul belakangan.

———–****————

“Tanjung Pinang ya begitu-begitu saja. Perubahan pesat justru terjadi di daerah yang dulu pinggiran. Coba lihat Batu IX sekarang. Dulu itu tempat jin buang anak”, kata seorang teman tentang kota ini.

“Tambahan satu lagi, sudah beberapa tahun terakhir kota ini sudah naik status jadi ibukota propinsi”, kata saya sambil tersenyum.

Ngomong-ngomong tentang ibu kota propinsi ini, saya jadi ingat sebuah tulisan opini dari istri mantan gubernur Kepri, Aida Zulaikha Nasution beberapa tahun lalu. Saat ia menuliskan opininya, sang suami Ismeth Abdullah masih menjabat sebagai gubernur. Aida yang merupakan anak dari gubernur Riau pertama (dulu Riau dan Kepri masih bergabung dalam satu propinsi, pen) dan sempat menghabiskan masa kecil di kota ini ( dulu juga, ibukota Riau di Tanjung Pinang sebelum dipindahkan ke Pekan Baru, pen) gerah dengan kondisi kota dan masyarakat Tanjung Pinang yang begitu-begitu saja. Menurut Aida untuk menghadapi perubahan zaman, masyarakatnya harus berubah. Kalau tidak, Tanjung Pinang ya bakal begini-begini saja. Persis seperti gambaran saya di atas.

Memang harus ada sesuatu atau pemicu yang merubahnya menjadi lebih baik lagi dari sekarang. Masa iya, kota yang merupakan ibukota propinsi kalah dari segi infrastruktur dan kemauan masyarakatnya sendiri untuk maju dibanding kota tetangganya. Contoh yang paling dekat adalah dengan kota Batam. Pelayanan listrik di kota ini masih payah. Air dari PDAM untul suplai warganya juga mengkhawatirkan karena hanya bertopang dari satu waduk yang sekarang sudah menyusut debit airnya. Belum lagi dengan etos kerja para aparaturnya yang lebih senang berlama-lama di warung kopi daripada melayani warga masyarakatnya.

Cuma masalahnya, apakah perubahan itu harus datang secara evolusi dengan mengharapkan kesadaran lapisan masyarakatnya saja? Untuk hal ini, saya kok lebih setuju dengan tulisan opini bantahan yang disampaikan seorang budayawan melayu di Kepri. Namanya  Rida K Liamsi. Saat itu, Rida menyampaikan kritik terhadap opini yang disampaikan Aida. Isi ringkasnya mungkin begini :

Menurut Rida, perubahan itu tidak akan pernah terjadi jika tidak dipaksakan. Ya, dipaksakan saja. Siapa yang harus memaksakan perubahan di tengah-tengah masyarakat itu? Ya pemerintah daerahnya sebagai pengelola dan pengambil kebijakan di daerah. Seperti menggembala kerbau-kerbau. Penggembala harus mengarahkan kerbau-kerbau itu untuk sampai di padang rumput untuk tempat mereka makan dan kemudian mengarahkannya lagi ke kandang. Kalau perlu dengan lecutan cemeti agar kerbau-kerbau itu tidak salah jalan atau berpencaran.

Sebuah perubahan menuju kebaikan, tidak selalu harus menunggu dari proses alamiah evolusi saja. Saya setuju dengan ide revolusi pemaksaan untuk tujuan yang baik. Cuma masalahnya, apakah pemerintah daerahnya sudah siap untuk melakukan revolusi pemaksaan seperti itu? Jangan-jangan ide pemaksaan itu justru akan sangat membebani dan menyakitkan bagi para aparatur kita. (***)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s